Peranan Orang Lain
Oleh : Ubaydillah, AN
Peranan Orang Lain
Dari beberapa kasus yang muncul di lapangan, ternyata orang lain itu punya peranan penting bagi perubahan seseorang. Ada seorang mantan napi yang dulu terlibat narkoba. Seperti umumnya penderita narkoba, orang ini sejak dulu sudah ingin berhenti dari mengkonsumsi barang haram ini. Tapi kenyataannya gagal terus. Kenapa? Salah satu faktor yang ia temukan paling menentukan adalah komunitas atau orang lain.
Itu contoh yang ekstrim dan berskala besar. Pentingnya peranan orang lain juga kerap kita temukan pada skala perubahan yang sifatnya umum (ordinary) dan tidak ekstrim. Misalnya saja Anda ingin memperbaiki standar prestasi tertentu yang Anda inginkan tahun ini. Untuk memperbaiki standar itu tidak mungkin hanya standarnya saja yang ubah, tetapi yang paling penting adalah mengubah diri. Pada proses perubahan diri inilah peranan orang lain menjadi penting.
Kenapa? Alasannya banyak. Kalau mengingat teori Jauhari Window, di dalam diri kita itu terdapat misteri yang baru kita ketahui sebagiannya dan sebagiannya lagi diketahui orang lain. Ada juga yang hanya diketahui orang lain. Untuk orang yang ingin melakukan perubahan-diri, menambah pengetahuan-diri itu menjadi penting. Alasan lainnya lagi adalah:
- Orang lain itu meng-inspirasi kita
- Orang lain itu menunjukkan jalan atau cara
- Orang lain itu cermin
- Orang lain itu mengkonfirmasi keyakinan kita
- Orang lain itu menambah pengetahuan kita
- Dan lain-lain dan seterusnya
Bahkan secara spiritualnya, kelemahan tertentu yang diberikan kita itupun dengan tujuan agar kita tetap merasa butuh orang lain. Coba bayangkan kalau kita tidak punya kelemahan apapun. Perasaan yang muncul adalah arogansi (merasa sudah tidak butuh orang lain) atau merasa sudah tidak butuh sama Tuhan.
Orang lain yang memainkan berbagai peranan penting seperti di atas tidak semata orang lain yang kita kenal langsung secara fisik. Orang lain yang tidak kita kenal secara fisik pun bisa memainkan peranan di atas sejuah kita bisa menjadikannya sebagai palajaran (learning materials) atau mampu menjadikannya sebagai guru pembimbing atau masukan penting.
Alasan di atas diperkuat lagi oleh temuan konsep ilmu pengetahuan yang kita kenal dengan istilah Social Learning (SL). Seperti yang sudah kita bahas di sini, SL adalah proses pembelajaran yang kita lakukan dengan cara melihat prilaku orang lain. Tak hanya berhenti pada melihat. Setelah kita melihat orang lain, kita kemudian menggunakan pelajaran yang kita dapatkan untuk memperbaiki diri. Jadi SL itu sedikitnya mengandung tiga hal pokok di bawah ini:
- See (Lihatlah)
- Apply (Praktekkan / Terapkan)
- Modify (Modifikasi)
Misalnya saja Anda ingin mendalami keahlian kerja tertentu. Selain Anda perlu membaca buku atau mengikuti kursus, belajarlah untuk melihat orang lain yang sudah lebih ahli. Lihat dan perhatikanlah. Setelah itu, praktekkan atau terapkan. Setelah menerapkan apa yang Anda lihat, ciptakan modifikasi baru dengan menambah, mengurangi, memperbaiki, mengubah, dan lain-lain. Untuk orang dewasa (bukan anak-anak lagi), cara seperti ini biasanya jauh lebih cespleng dibanding dengan membaca buku atau mendengarkan kuliah.
Ajaran agama pun sama. Kita diperintahkan untuk melihat perilaku orang lain, entah itu yang benar atau yang salah, dan juga diperintahkan untuk mempelajari akibat-akibatnya. Ini dimaksudkan agar kita bisa mengambil pelajaran dari perilaku orang lain itu supaya langkah kita lebih bagus atau terhindar dari penderitaan.
Jadi, kalau Anda ingin mengubah diri, temukan orang lain, pelajari orang lain, mintalah bantuan atau dukungan pada orang lain atau bergaullah dengan orang lain. Mintalah saran dari orang lain, mintalah masukan dari mereka, lakukan sharing (berbagi) dengan mereka. Orang lain di sini bisa pribadi atau organisasi. Orang lain di sin bisa yang selevel sama, selevel lebih rendah atau selevel lebih atas.
"Jika buku yang Anda baca dan orang yang Anda kenal itu sama, kemungkinan besar nasib Anda dalam lima tahun ke depan juga masih sama."(Jim Rohn)
Penting Tetapi Bukan Yang Paling Penting
Menurut hukum Tuhannya, meskipun orang lain itu berperan penting, tetapi bukan yang paling penting. Seperti yang sudah sering kita bahas di sini, orang lain itu berperan sebagai supporter (pendukung), sementara kita berperan sebagai determinant (penentu). Posisi orang lain di sini menjadi penting ketika kita sudah menginginkan perubahan itu. Sejarah para nabi dan contoh-contoh nyata dalam praktek hidup sudah membuktikan ini.
Karena orang lain itu bukan sebagai penentu, maka dalam prakteknya tetap dibutuhkan tiga kesadaran yang paling mendasar di bawah ini:
Pertama, jangan mengandalkan. Mengandalkan di sini artinya kita menyerahkan tanggungjawab kita kepada orang lain. Jangankan kepada manusia, kepada Tuhan sekali pun tidak boleh kita mengandalkan dalam arti yang lemah ini. Lalu harus bagaimana? Yang boleh kita lakukan adalah membutuhkan: saran, dukungan, pendapat, bimbingan, bantuan, dan lain-lain.
Berbicara tentang mengandalkan ini, ada teori keilmuan yang kita kenal dengan istilah Locus of Control (LoC). Locus of Control adalah persepsi seseorang tentang kenapa sesuatu terjadi pada dirinya, atau kekuatan apa yang mendorong dirinya untuk melakukan sesuatu. Locus of Control ini secara garis besarnya bisa dikelompokkan menjadi dua: a) Internal locus of control (dari dalam dirinya), dan b) External locus of control (dari luar dirinya).
Orang yang locus of control-nya tinggi dan sumbernya dari internal akan menunjuk dirinya sebagai penanggung jawab perubahan. Dari catatan para pakar Psikologi, orang yang locus of control-nya ke internal akan mudah melakukan perubahan-diri ke arah yang lebih baik, lebih mudah menghentikan kebiasaan buruk (dari mulai yang paling kecil sampai ke yang paling besar), dan lebih mudah menyelesaikan problem yang dihadapi, mulai problem rumah tangga, problem di sekolah, problem di tempat kerja, atau berbagai problem saat memperjuangkan keinginan.
Kedua, kesediaan untuk dibimbing. Kata Jim Rohn, seorang pakar filsafat bisnis, yang kurang dari manusia bukanlah kapasitasnya, melainkan bimbingannya. Seorang atlit yang berbakat sekalipun tetap butuh bimbingan. Bimbingan itulah yang biasanya dapat memoles bakat si atlit. Orang yang biasa-biasa akan menjadi luar biasa apabila mendapatkan bimbingan yang bagus. Bahkan menurut konsep pengembangan HRD (Human Resources Development), bimbingan adalah kunci untuk meningkatkan kompetensi karyawan.
Tetapi kalau melihat prakteknya, bukan saja bimbingan yang terpenting. Bimbingan memang penting, namun yang lebih penting lagi adalah kesediaan untuk dibimbing atau kemauan untuk belajar. Ini juga penting untuk disadari bagi yang melihat ada perubahan di dalam dirinya. Maksudnya di sini adalah, kita perlu menjadi orang yang lebih terbuka terhadap berbagai masukan yang datang dari orang lain. Maksudnya lagi, kita perlu mengurangi tingkat ke-defensif-an yang ada di batin kita. Maksudnya lagi, kita perlu melatih kemampuan mendengarkan orang lain.
PROSES PERUBAHAN BERTAHAP
| DARI | KE |
| Dari yang tertutup | Ke yang lebih terbuka |
| Dari yang defensif | Ke yang lebih tanggap |
| Dari yang merasa benar sendiri (clinging) | Ke yang lebih melihat ada kebenaran pada orang lain (embracing) |
| Dari yang curiga-an | Ke yang lebih sedikit mempercayai (trust) |
| Dari yang menyulut / menghindari konflik | Ke yang lebih menyelesaikan / mencairkan / menghadapi konflik secara positif |
| Dari yang kaku | Ke yang lebih fleksibel |
| Dari yang salah dalam mempersepsikan diri | Ke yang lebih akurat dalam mempersepsikan diri |
Ketiga, menyeleksi pendapat orang lain. Pendapat orang lain itu bermacam-macam. Ada yang negatif dan ada yang positif; ada yang mendukung dan ada yang tidak mendukung. Ada yang sesuai dan ada yang tidak sesuai. Karena itu, kita perlu menyeleksi pendapat mereka. Jangan sampai kita menolak seratus persen atau menerima seratus persen. Rumusnya adalah: dengarkan masukan sebanyak mungkin, tetapi putuskan sendiri.
"Tidak mungkin kita bisa mengubah orang lain. Kita hanya bisa menjadi
resource bagi perubahan orang lain." (Stephen R. Covey)
5 M Dalam Perubahan Diri
Kalau berbicara perubahan-diri, ada sedikitnya lima "hukum" yang perlu kita jadikan pedoman. Hukum di sini maksudnya adalah sesuatu yang sangat prinsip yang tidak bisa kita siasati. Agar lebih mudah diingat, kelima itu bisa disingkat menjadi 5M berikut ini:
M 1 : Mulailah dari diri sendiri lebih dulu. Mau kita pakai teori apapun atau siasat apapun, keputusan untuk berubah tidak bisa datang dari orang lain, keadaan, atau Tuhan. Keputusan untuk berubah harus datang dari kita. Ini bisa dikatakan hukum karena meskipun orang dan keadaan sudah menyarankan kita untuk berubah, namun kalau kita belum memutuskan berubah, biasanya perubahan tidak terjadi. Pemahaman demikian memang tidak mutlak benarnya, tetapi jauh lebih banyak mengandung manfaat untuk perbaikan-diri.
M 2 : Mulailah untuk menemukan alasan yang paling kuat untuk berubah. Semua orang diberi alasan oleh Tuhan untuk berubah. Tetapi, tidak semua alasan itu ditemukan dan tidak semua yang sudah ditemukan itu kuat. Tugas kita adalah menggali alasan dan menemukan yang paling kuat. Secara umum, alasan itu bisa ditemukan dari dua hal, yaitu:
- Temukan alasan dari apa yang benar-benar ingin Anda raih dalam hidup Anda. Ini misalnya saja: cita-cita dari kecil, panggilan hati yang terus muncul, target yang mendesak, keinginan yang benar-benar penting dan menjadi pembeda atau menambah nilai plus Anda. Temukan itu.
- Temukan alasan dari masalah atau problem hidup yang benar-benar menghimpit, misalnya saja: masalah ekonomi, masalah status sosial, dan lain-lain. Masalah yang menghimpit bisa kita jadikan alasan untuk berubah sejauh masalah itu dijiwai atau dijadikan pelajaran.
M 3 : Mulailah dari yang paling sanggup Anda lakukan hari ini dengan menggunakan resource yang ada. Untuk mewujudkan perubahan yang ingin kita lihat, tentu saja harus ada program atau agenda tentang apa yang akan kita lakukan. Berdasarkan pengalaman banyak orang, pilihlah agenda yang paling mungkin bisa kita lakukan setiap hari prosesnya. Agenda ini tergantung kapasitas dan keadaan kita sebagai pribadi. Jangan sampai kita tergiur meniru agenda orang lain yang akhirnya tidak bisa kita jalankan. Kita perlu ingat bahwa ketika tekad kita sudah bulat untuk melakukan sesuatu, maka semua yang ada di kita dan yang ada di sekeliling kita itu berguna.
M 4 : Mulailah menemukan orang lain yang cocok. Kita sudah sepakat bahwa orang lain itu berperan penting dalam perubahan kita, tetapi (prakteknya) tidak semua orang lain itu penting. Ada orang yang mendukung dan ada yang tidak; ada yang menginginkan kemajuan kita tetapi ada yang tidak menginginkan. Tugas kita adalah berkonsentrasi menemukan orang lain yang mendukung. Biasanya, jumlah orang lain yang seperti ini hanya 20% dari yang kita kenal. Jadi kalau kita mengenal 10 orang, mungkin yang mendukung itu 2. Inipun sudah bagus.
M 5 : Mulailah menjadi kreatif dalam mewujudkan agenda perubahan. Kreatif di sini adalah berusaha menemukan berbagai cara yang lebih efektif dan efisien. Temukan cara yang kreatif dalam menemukan orang lain. Kalau kita tidak kenal langsung, temukan orang yang sudah kita kenal yang mau memperkenalkan kita ke orang yang kita inginkan. Kuncinya, kita bisa mengenal siapapun yang kita mau dan itu kita hanya butuh melewati (paling maksimal) delapan pintu atau stasiun network (orang). Temukan juga sebanyak mungkin cara dalam menjalankan agenda perubahan itu. Kebanyakan orang gagal di sini karena sudah meyakini hanya ada satu cara untuk melakukan agenda. Padahal yang namanya cara itu banyak.
"Perubahan-diri memang tidak bisa diciptakan dengan cara yang instan, tetapi keputusan untuk berubah bisa Anda lakukan se-instan mungkin."
Semoga bermanfaat.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar